KKPK
oh….. KKPK: Engkau Mengubah
Dunia
Perpustakaanku
Seperti yang telah kita ketahui bersama,
bawasannya jenis koleksi di perpustakaan begitu banyak ragamnya. Kita mengenal
jenis koleksi mulai dari koleksi fiksi, non-fiksi, referensi, hingga kartografi.
Mengingat banyaknya jenis koleksi yang harus dimiliki perpustakan, menjadi
tugas sendiri bagi pustakawan untuk bisa memporsi koleksi mana yang akan
didahulukan terlebih dahulu dalam proses pengadaan. Jika dengan melihat
inventaris koleksi pustakawan belum mampu menentukan koleksi mana yang akan
diadakan terlebih dahulu, pustakawan dan melihat sirkulasi koleksi mana yang
lebih diminati atau meminta masukan dari pemustaka. Nantinya masukan dan
pengamatan terhadap sirkulasi yang lebih sering digunakan dapat dijadikan
panduan dalam memprioritaskan pengadaan koleksi. Setelah itu baru mengadakan
buku diluar pertimbangan tersebut untuk memenuhi kebutuhan informasi lainnya.
SDN Madusari 1 merupakan salah satu
sekolah inti yang berada di Kecamatan Prambanan. Ketika kita menengok
perpustakaannya, bolehlah dikatakan satu tingkat lebih tinggi kondisinya jika
dibandingkan dengan perpustakaan yang belum tersentuh “tangan” pustakawan.
Namun, jika pembahasan sudah masuk ke ranah koleksi, yaa jangan ditanya, hhha,
minim seminimnya. Eitssss, tapi itu dulu yaa pada waktu saya pertama kali masuk
kerja di sana. Namun, sudah hampir dua tahun terakhir ini setelah saya mulai ngitik-ngitik terkait dana yang minimal
5% untuk perpustakaan dan Alhamdulillah sekali perubahannya, hhhe.
Kemudian setelah dana ada, pertama
kali yang saya lakukan adalah membeli buku. Alasan saya klasik sekali kenapa
buku menjadi tujuan pertama dari penggunaan dana, yaitu minimnya koleksi yang
ada. Iya… koleksinya sih ada, namun kurang up
to date. Sebagai contoh buku yang pernah saya baca ketika SD, yaa sekitar
12 tahun yang lalu berjudul Jet Star masih tertata rapi di rak hhe. Memang
tidak menjadi masalah koleksi itu masih ada, tapi tidak ada salahnya juga kan
jika di tambah dengan kolesi yang lagi ngehits
dikalangan anak-anak. Berbekal pengalaman pribadi, akhirnya saya pilihlah seri
koleksi KKPK untuk penyegaran koleksi di perpustakaan. Ternyataaa setelah saya
membeli koleksi tersebut, antusiasme anak-anak untuk berkunjung, membaca, dan
meminjam semangkin meningkat. Akan tetapi pada proses sirkulasinya, saya
memiliki aturan khusus, yaitu bisa meminjam koleksi baru tersebut namun harus
juga meminjam koleksi yang lama. Aturan ini dimaksudkan agar koleksi yang lama
tetap bisa dimanfaatkan, karena prinsip saya koleksi yang belum pernah dibaca
adalah koleksi baru.
Terakhir di tulisan ini, saya akan
memberikan sedikit alasan kenapa KKPK tetap menjadi primadona di kalangan
anak-anak. Pertama, berdasarkan
pengalaman adik saya, dia menyukai seri KKPK karena di dalam ceritanya banyak
yang bisa langsung dipraktekkan. Sebagai contoh koleksi dengan judul Let’s Bake Cooking banyak resep-resep
yang bisa dipraktekkan, sehingga setelah membaca, adik saya (yang kala itu
masih SD) meminta untuk mempraktekkan resep yang ada di buku dan kemudian
berkeingingan membaca dengan judul lainnya lagi. Kedua, pilihan kata (diksi) cerita sangat ringan sehingga mudah
dipahami oleh anak-anak, selain itu selalu ada kata asing yang dapat menambah
pengetahuan kosa kata ana-anak. Ketiga,
ilustrasi pada cerita juga menarik anak-anak, selain itu ilustrasi yang ada
juga mendukung dari isi. Keempat,
koleksi ini dituliskan oleh penulis cilik yang secara tidak langsung ketika
anak-anak membaca, rangsangan untuk gemar membaca dan menulis akan muncul dengan
sendirinya, hal ini pernah saya alami ketika salah satu siswa saya mencoba
menunjukkan tulisannya untuk bisa diterbitkan menjadi serial KKPK.
Kini, koleksi KKPK yang perpustakaan
kami koleksi berupa novel dan komik. Memang untuk ranah koleksi, perpustakaan
kami belum memiliki banyak koleksi, namun kehadiran seri KKPK mampu mengalihkan
ketertarikan mereka dari lari-larian untuk berkunjung ke perpustakaan. Karena
koleksi inilah, minat membaca mereka mulai terlihat. Thankiss KKPK…..
_Riani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar