GERAKAN 15 MENIT MEMBACA
Kegiatan membaca
seperti yang ketahui oleh banyak orang adalah kegiatan yang selalu
dihubung-hubungkan dengan buku. Maka dari itu sering terdengar ucapan dari
orang tua kita “mbok moco buku men pinter”.
Kalimat tersebut kurang lebih berarti “bacalah
buku biar kamu pintar”. Ketika merenungkan kalimat tersebut ternyata orang tua
itu peduli yaa dengan anaknya supaya pintar, nyatanya anaknya disuruh membaca
buku agar pintar hhhe. Just kidding. Memang
tidak salah orang tua berkata seperti itu, karena salah satu tujuan membaca
menurut Ohuwitan (1997) adalah untuk meningkatkan pengetahuan. Membaca juga
tidak selalu identik dengan membaca buku, sesorang dapat pula membaca surat
kabar, majalah, dan sumber bacaan lainnya.
Membaca
merupakan kegiatan yang susah-susah gampang untuk dilakukan. Bagaimana tidak,
bagi anak-anak kegiatan ini hanya akan dilakukan ketika mereka mengerjakan soal yang
sebelumnya harus membaca bacaannya dulu sebelum menjawab. Anak-anak juga akan
membaca ketika sudah mendapatkan perintah dan tidak akan membaca bila tidak
diperintah. Jika hal ini yang terjadi secara terus menerus, maka kapan akan
tumbuh budaya baca di kalangan anak? Menjadi PR besar bagi orang tua, sekolah,
dan masyarakat yaa!.
Terkait
dengan budaya membaca, sekolah juga ikut bertanggung jawab untuk mewujudkannya.
Kini sedang dicanangkan Gerakan Literasi Sekolah yang disingkat menjadi GLS. Gerakan
ini berintikan siswa diwajibkan membaca selama 15 menit diluar buku pelajaran (kalo bisa
hhe). Terdapat buku saku GLS yang dapat dijadikan acuan dalam
melaksanakan gerakan ini. GLS merupakan salah satu bentuk movement yang positif untuk membiasakan siswa (SD-SMA) untuk
membaca.
Adapun
contoh implementasinya ada di SDN Madusari 1 (sekolah saya sendiri, hhhe). Kurang
lebih sejak akhir Februari awal Maret sekolah ini sudah melaksanakan GLS yang sering
kita kenal dengan gerakan 15 menit membaca. Gerakan ini dimulai ketika kepala
sekolah mendapatkan mandat dari KaUPT untuk melaksanakan kegiatan ini setiap
hari Kamis. Ketika mendengar kabar, saya seperti mendapatkan angin segar
saja. Bagaimana tidak? Atasan saja peduli dan sudah saatnya para pustakawan
sekolah ikut menyukseskan program ini. Awalnya memang berat, namun yang namanya
pembiasaan dan melihat semangat kepala sekolah serta siswa-siswa, akhirnya OK
lah setiap hari Kamis saya datang lebih pagi
ke sekolah untuk melaksanakan kegiatan ini.
Gerakan
15 menit membaca di sekolah kami masih pada tahap pembiasaan membaca. Idealnya
memang setelah membaca harus ada tahapan selanjutnya, namun karenan berbagai
hal belum terlaksana. Jadi, setiap hari Kamis, siswa memang diminta datang
lebih pagi yaa sekitar 6.30 lah, kemudian mereka diminta untuk membaca buku
apapun itu. Karena jika diminta untuk membaca selain buku pelajaran, sekolah
kami masih sangat minim koleksi, yaa sebenarnya ada namun yang menarik buat
dibaca hanya itu-itu saja (jujur bgt). Tidak menjadi masalah menurut saya, yang
jelas anak mau membaca sudah Alhamdulillah.
Kegiatan ini bisa dilakukan dimanapun sesuka hati anak, mau di kelas, di
lapangan, di Musholla, duduk, ataupun lesehan kami bebaskan. Hingga akhir
semester, gerakan ini lumayan memberikan hasil, sebagai contoh kini anak-anak mulai
terbiasa ketika hari Rabu sudah berinisiatif meminjam buku di perpustakaan untuk dibaca
hari Kamisnya. Peran serta guru-guru khususnya kelas kecil sudah mulai terlihat
dengan mau menemani siswanya untuk membaca. Besar harapan gerakan ini bisa
terus berjalan dan jika ini merupakan gerakan bersama, ketersediaan buku juga
harus diperhatikan. Berawal dari pembiasaan berharap menjadi budaya, yaa budaya baca tentunya :).
_Riani


Tidak ada komentar:
Posting Komentar