Minggu, 12 Juni 2016

GERAKAN 15 MENIT MEMBACA



GERAKAN 15 MENIT MEMBACA


                Kegiatan membaca seperti yang ketahui oleh banyak orang adalah kegiatan yang selalu dihubung-hubungkan dengan buku. Maka dari itu sering terdengar ucapan dari orang tua kita “mbok moco buku men pinter”. Kalimat tersebut kurang lebih  berarti “bacalah buku biar kamu pintar”. Ketika merenungkan kalimat tersebut ternyata orang tua itu peduli yaa dengan anaknya supaya pintar, nyatanya anaknya disuruh membaca buku agar pintar hhhe. Just kidding. Memang tidak salah orang tua berkata seperti itu, karena salah satu tujuan membaca menurut Ohuwitan (1997) adalah untuk meningkatkan pengetahuan. Membaca juga tidak selalu identik dengan membaca buku, sesorang dapat pula membaca surat kabar, majalah, dan sumber bacaan lainnya.
            Membaca merupakan kegiatan yang susah-susah gampang untuk dilakukan. Bagaimana tidak, bagi anak-anak kegiatan ini hanya akan dilakukan ketika mereka mengerjakan soal yang sebelumnya harus membaca bacaannya dulu sebelum menjawab. Anak-anak juga akan membaca ketika sudah mendapatkan perintah dan tidak akan membaca bila tidak diperintah. Jika hal ini yang terjadi secara terus menerus, maka kapan akan tumbuh budaya baca di kalangan anak? Menjadi PR besar bagi orang tua, sekolah, dan masyarakat yaa!. 
            Terkait dengan budaya membaca, sekolah juga ikut bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Kini sedang dicanangkan Gerakan Literasi Sekolah yang disingkat menjadi GLS. Gerakan ini berintikan siswa diwajibkan membaca selama 15 menit diluar buku pelajaran (kalo bisa  hhe). Terdapat buku saku GLS yang dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan gerakan ini. GLS merupakan salah satu bentuk movement yang positif untuk membiasakan siswa (SD-SMA) untuk membaca.
            Adapun contoh implementasinya ada di SDN Madusari 1 (sekolah saya sendiri, hhhe). Kurang lebih sejak akhir Februari awal Maret sekolah ini sudah melaksanakan GLS yang sering kita kenal dengan gerakan 15 menit membaca. Gerakan ini dimulai ketika kepala sekolah mendapatkan mandat dari KaUPT untuk melaksanakan kegiatan ini setiap hari Kamis. Ketika mendengar kabar, saya seperti mendapatkan angin segar saja. Bagaimana tidak? Atasan saja peduli dan sudah saatnya para pustakawan sekolah ikut menyukseskan program ini. Awalnya memang berat, namun yang namanya pembiasaan dan melihat semangat kepala sekolah serta siswa-siswa, akhirnya OK lah setiap hari Kamis saya datang lebih pagi  ke sekolah untuk melaksanakan kegiatan ini.
            Gerakan 15 menit membaca di sekolah kami masih pada tahap pembiasaan membaca. Idealnya memang setelah membaca harus ada tahapan selanjutnya, namun karenan berbagai hal belum terlaksana. Jadi, setiap hari Kamis, siswa memang diminta datang lebih pagi yaa sekitar 6.30 lah, kemudian mereka diminta untuk membaca buku apapun itu. Karena jika diminta untuk membaca selain buku pelajaran, sekolah kami masih sangat minim koleksi, yaa sebenarnya ada namun yang menarik buat dibaca hanya itu-itu saja (jujur bgt). Tidak menjadi masalah menurut saya, yang jelas anak mau membaca sudah Alhamdulillah. Kegiatan ini bisa dilakukan dimanapun sesuka hati anak, mau di kelas, di lapangan, di Musholla, duduk, ataupun lesehan kami bebaskan. Hingga akhir semester, gerakan ini lumayan memberikan hasil, sebagai contoh kini anak-anak mulai terbiasa ketika hari Rabu sudah berinisiatif meminjam buku di perpustakaan untuk dibaca hari Kamisnya. Peran serta guru-guru khususnya kelas kecil sudah mulai terlihat dengan mau menemani siswanya untuk membaca. Besar harapan gerakan ini bisa terus berjalan dan jika ini merupakan gerakan bersama, ketersediaan buku juga harus diperhatikan. Berawal dari pembiasaan berharap menjadi budaya, yaa budaya baca tentunya :). 

_Riani

Kamis, 09 Juni 2016

KKPK oh….. KKPK: Engkau Mengubah Dunia Peprustakaanku



KKPK oh….. KKPK: Engkau Mengubah
Dunia Perpustakaanku



      Seperti yang telah kita ketahui bersama, bawasannya jenis koleksi di perpustakaan begitu banyak ragamnya. Kita mengenal jenis koleksi mulai dari koleksi fiksi, non-fiksi, referensi, hingga kartografi. Mengingat banyaknya jenis koleksi yang harus dimiliki perpustakan, menjadi tugas sendiri bagi pustakawan untuk bisa memporsi koleksi mana yang akan didahulukan terlebih dahulu dalam proses pengadaan. Jika dengan melihat inventaris koleksi pustakawan belum mampu menentukan koleksi mana yang akan diadakan terlebih dahulu, pustakawan dan melihat sirkulasi koleksi mana yang lebih diminati atau meminta masukan dari pemustaka. Nantinya masukan dan pengamatan terhadap sirkulasi yang lebih sering digunakan dapat dijadikan panduan dalam memprioritaskan pengadaan koleksi. Setelah itu baru mengadakan buku diluar pertimbangan tersebut untuk memenuhi kebutuhan informasi lainnya.
            SDN Madusari 1 merupakan salah satu sekolah inti yang berada di Kecamatan Prambanan. Ketika kita menengok perpustakaannya, bolehlah dikatakan satu tingkat lebih tinggi kondisinya jika dibandingkan dengan perpustakaan yang belum tersentuh “tangan” pustakawan. Namun, jika pembahasan sudah masuk ke ranah koleksi, yaa jangan ditanya, hhha, minim seminimnya. Eitssss, tapi itu dulu yaa pada waktu saya pertama kali masuk kerja di sana. Namun, sudah hampir dua tahun terakhir ini setelah saya mulai ngitik-ngitik terkait dana yang minimal 5% untuk perpustakaan dan Alhamdulillah sekali perubahannya, hhhe.
            Kemudian setelah dana ada, pertama kali yang saya lakukan adalah membeli buku. Alasan saya klasik sekali kenapa buku menjadi tujuan pertama dari penggunaan dana, yaitu minimnya koleksi yang ada. Iya… koleksinya sih ada, namun kurang up to date. Sebagai contoh buku yang pernah saya baca ketika SD, yaa sekitar 12 tahun yang lalu berjudul Jet Star masih tertata rapi di rak hhe. Memang tidak menjadi masalah koleksi itu masih ada, tapi tidak ada salahnya juga kan jika di tambah dengan kolesi yang lagi ngehits dikalangan anak-anak. Berbekal pengalaman pribadi, akhirnya saya pilihlah seri koleksi KKPK untuk penyegaran koleksi di perpustakaan. Ternyataaa setelah saya membeli koleksi tersebut, antusiasme anak-anak untuk berkunjung, membaca, dan meminjam semangkin meningkat. Akan tetapi pada proses sirkulasinya, saya memiliki aturan khusus, yaitu bisa meminjam koleksi baru tersebut namun harus juga meminjam koleksi yang lama. Aturan ini dimaksudkan agar koleksi yang lama tetap bisa dimanfaatkan, karena prinsip saya koleksi yang belum pernah dibaca adalah koleksi baru.
            Terakhir di tulisan ini, saya akan memberikan sedikit alasan kenapa KKPK tetap menjadi primadona di kalangan anak-anak. Pertama, berdasarkan pengalaman adik saya, dia menyukai seri KKPK karena di dalam ceritanya banyak yang bisa langsung dipraktekkan. Sebagai contoh koleksi dengan judul Let’s Bake Cooking banyak resep-resep yang bisa dipraktekkan, sehingga setelah membaca, adik saya (yang kala itu masih SD) meminta untuk mempraktekkan resep yang ada di buku dan kemudian berkeingingan membaca dengan judul lainnya lagi. Kedua, pilihan kata (diksi) cerita sangat ringan sehingga mudah dipahami oleh anak-anak, selain itu selalu ada kata asing yang dapat menambah pengetahuan kosa kata ana-anak. Ketiga, ilustrasi pada cerita juga menarik anak-anak, selain itu ilustrasi yang ada juga mendukung dari isi. Keempat, koleksi ini dituliskan oleh penulis cilik yang secara tidak langsung ketika anak-anak membaca, rangsangan untuk gemar membaca dan menulis akan muncul dengan sendirinya, hal ini pernah saya alami ketika salah satu siswa saya mencoba menunjukkan tulisannya untuk bisa diterbitkan menjadi serial KKPK.
            Kini, koleksi KKPK yang perpustakaan kami koleksi berupa novel dan komik. Memang untuk ranah koleksi, perpustakaan kami belum memiliki banyak koleksi, namun kehadiran seri KKPK mampu mengalihkan ketertarikan mereka dari lari-larian untuk berkunjung ke perpustakaan. Karena koleksi inilah, minat membaca mereka mulai terlihat. Thankiss KKPK…..

_Riani

Selasa, 07 Juni 2016

MENJADI PUSTAKAWAN SEKOLAH ITU PILIHAN ATAUKAH TAKDIR?



MENJADI PUSTAKAWAN SEKOLAH ITU
PILIHAN ATAUKAH TAKDIR?


Sumber Gambar: http://bit.ly/1X8V1fF
      Berpikir untuk bekerja menjadi pustakawan di suatu sekolahan mungkin jarang yang terlintas di benak mahasiswa Ilmu Perpustakaan. Mungkin hal ini terlihat pada saat mahasiswa mengambil mata kuliah pilihan, perpustakaan digitial atau manajemen perpustakaan sekolah hhhe. Namun, pada saat itu saya memutuskan untuk mengambil mata kuliah manajemen perpustakaan sekolah dengan alasan untuk mempelajari terkait perpustakaan digital kita dapat belajar secara otodidak (walaupun kenyataannya susah juga hohoho).
        Singkat cerita setelah satu semesater mengikuti perkuliahan manajamen perpustakaan sekolah selama satu semester, hasrat untuk mengamalkan ilmu di perpustakaan sekolaha pun muncul. Bagaimana tidak, selama perkuliahan kami diajarkan berbagai hal terkait pelaksanaan perpustakan sekolah, mulai dari manajemennya, bagaimana cara story telling, English for children, dan mata kuliah lainnya. Saat itu juga seperti berjanji pada diri sendiri bawasannya setelah sidang, saya harus beraktifitas dimanapun tempatnya, cuma pada saat itu saya berharapnya bisa mengamalknan ilmu di perpustakaan sekolah. Yaa, benar saja November 2014 sebelum wisuda saya diminta untuk menggantikan kakak tingkat saya di SDN Madusari 1. Sounds Good.
        Pada saat itu saya selama dua bulan pagi hari hingga siang saya beraktifitas di sekolahan dan siang hingga malamnya saya beraktifitas di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Karena pada saat itu saya juga masih berstatus mahasiswa parttime di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Luar biasanya rasanya ketika pertama kali datang dan beraktifitas di perpustakaan sekolah. Satu yang akan terus berkesan, menjadi pustakawan sekolah itu memang harus multitasking. Bagaimana tidak, kita dituntut mampu melakukan segala aktifitas. Memimjam istilah Jawa, pustakawan sekolah itu harus mrantasi. Yaa, selain kita harus mampu mengerjakan tugas pokok kita, kita juga diharuskan melakukan kegiatan lainnya, contohnya jadi cleaning service, kuli angkut (buku), dan lainnya.
        Terasa berat iya, gaji yang minim memang iya, kerjanya kaya kuli (di awal) iya. Namun, kembali lagi, kita sebagai lulusan ilmu perpustakaan harus memikirkan juga bagaimanan nasib peprustakaan sekolah. Apalagi perpustakaan SD, dimana SD menjadi tempat pendidikan yang paling dasar. Bantuan fisik banyak diberikan, namun tidak berbanding lurus dengan SDM yang ada. Kembali lagi ke awal, Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya manyatakan tentang pengabdian masyarakat. Sudah saatnya kita (lulusan Ilmu Perpustakaan) mampu mengabdi di masyarakat, di segala lapisan. Menjadi pustakawan sekolah itu pilihan, bukan merupakan takdir karena tidak diterima kerja di tempat lain. Beraktifitas menjadi pustakawan sekolah berarti keilmuwan kita memang benar-benar di uji. Hal ini mungkin terdengar sangat idealis, namun jika bukan kita (alumni jurusan Ilmu Perpustakaan), siapa lagi yang akan memperhatikan nasib perpustakaan sekolah?
_Riani

Senin, 06 Juni 2016

PERPUSTAKAAN KELILING: SECERCAH CAHAYA UNTUK KAMI



PERPUSTAKAAN KELILING: SECERCAH CAHAYA UNTUK KAMI


Seperti yang kita ketahui bersama keberadaan perpustakaan umum sangatlah penting dalam kehidupan kultural dan kecerdasan bangsa.[1] Hal ini sesuai dengan manifesto perpustakaan yang dikeluarkan Unesco pada tahun 1972, yang menyatakan salah satu tujuan perpustakaan umum adalah untuk memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah yang lebih baik.[2] Aktivitas membaca sendiri pada muncul bersamaan dengan kegiatan menulis.[3] Kegiatan membaca selalu disangkut pautkan dengan minat baca. Karena dengan mengakses informasi yang ada di perpustakaan, diharapkan kecintaan dan minat untuk membaca pada masyarakat juga semakin tumbuh.
Adapaun yang termasuk ke dalam perpustakaan umum salah satunya adalah perpustakaan daerah atau yang sering disebut KPAD/KPD. Perpustakaan daerah biasanya melakuakan perluasan layanan dengan mengadakan layanan perpustakaan keliling. Perpustakaan keliling merupakan perluasan layanan dari sebuah layanan perpustakaan umum kepada pemustakanya yang tidak dapat menjangkau perpustakaan umum secara fisiknya. Hal ini sesuai dengan UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, bawasannya pemerintah, pemerintah provinsi, dan/atau kabupaten/kota melaksanakan layanan perpustakaan keliling bagi daerah yang belum terjangkau oleh layanan perpustakaan menetap.[4]
Adapun salah satu contoh perpustakaan yang melaksanakan layanan peprustakaan keliling adalah KPD Sleman. Dimana perpustakaan ini memperluas jangkauan layanannya ke sekolah dan desa. Untuk layanan perpustakaan keliling yang datang ke sekolahan biasanya berlangsung satu pecan atau dua pekan sekali. Proses dari kegiatan perpustakaan keliling adalah perpustakaan datang dengan armada mobil atau bus perpustakaan, kemudian siswa atau masyarakat dimana perpustakaan keliling itu datang dapat meminjam buku maksimal satu dengan lama pinjam hingga layanan keliling berikutnya. Bisa juga perpustakaan keliling menitipkan beberapa koleksinya untuk disirkulasikan di perpustakaan dengan jangka waktu tertentu.
Perpustakaan SDN Madusari 1 menjadi salah satu perpustakaan yang beruntung. Bagaimana tidak, sekolah ini menjadi satu dari dua sekolah di Kecamatan Prambanan yang mendapatkan layanan ini, Alhamdulillah banget pokoknya. Adapun jadwal layanannya setiap dua pekan sekali, keren kan…, sebulan kami mendapat dua kali layanan. Rupanya hal ini memang harus dimanfaatkan oleh sekolahan untuk meningkatkan kecintaan siswanya memanfaatkan perpustakaan. Sebagai seoarang pustakawan kita harus pandai pandai mengatur strategi agar peminjaman buku diperpustakaan keliling memenuhi target. Karena memang timbal baliknya sekolah ke pihak perpustakaan adalah minimal peminjaman adalah 30 orang dan jumlah pengunjung minimal 70 orang untuk tiap kali kunjungan. Berawal dari situlah, saya kemudian mendaftarkan semua guru dan karyawan menjadi anggota, dan ketika mereka tidak mau meminjam, saya sendiri yang akan meminjam dengan kartu mereka. Rupanya hal ini sedikit banyak telah membantu mencukupi target peminjaman, selain peminjaman yang dilakukan oleh siswa kelas 3-5. Namun, disisi lain ketika saya meminjam koleksi dengan kartu guru dan karyawan yang memang bias pinjam masing-masing kartu dua buku, walhasil buku yang terpinjam semakin banyak. Hal berarti selama dua pekan kedepan buku yang bisa dimanfaatkan siswa juga semakin bertambah. Belum lagi ketambahan dengan buku yang dipinjam oleh siswa. Karena saya memang berusaha memutarkan buku yang dipinjam dari perpustakaan keliling kepada siswa sebagai bahan tambahan dan penyegaran dari buku yang kami koleksi. Dadi pustakawan sekolah memang kudu greteh hhhe.
_Riani


[1] Sulistyo-Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, 1991 (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama), hlm. 46.
[2] Ibid.                          
[3] Paul Ohuwitan, “Metode dan Teknik: Pengembangan Minat dan Kegemara Membaca” dalam  Buletin Pusat Perbukuan, Nomor 1 Februari 1997, hlm. 4.
[4] Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 BAB I Ketentuan Umum Pasal 22 ayat (5).