Cita
dan Asa Laila
Berada dalam lingkungan keluarga
yang serba pas- pasan tak lantas menyurutkan semangat seorang Laila untuk tetap
meneruskan kuliah. Diceritakan setelah lulus dari menengah atas, Laila mencoba
keberuntungannya, beberapa kali ia mengikuti ujian masuk PT. Jika dibayangkan
uang pendaftaran PT saat itu lumayan mahal bila dibandingkan dengan kondisi
ekonomi keuangan keluarga Laila yang orang tuanya hanya pedagang sayur
keliling. Berbekal lembaran uang yang dikumpulkan orang tuanya, Laila akhirnya
pergi untuk mencoba keberuntungannya. Alhamdulillah, akhirnya Lailapun diterima
disalah satu PTN di Kota Gudeg. Luapan bahagia muncul seketika, tetesan air
mata mulai membasahi pipi Laila ketika melihat pengumuman siang itu. Bagaimana
tidak, anak sulung penjual sayur itu mampu meneruskan kuliahnya.
Perjalanan kuliah Laila terbilang
cepat, tepat 3,5 tahun ia menyelesaikan kuliahnya dengan IPK 3,75. Namun, dibalik
itu selama 3,5 tahun itu Laila harus berjuang membantu orang tuanya membiayai
kuliahnya, mulai dari ia berjualan kue buatannya di kampus, membagi waktunya
untuk mengajar di Madrasah Diniyah, hingga membuka jasa penyampulan buku. Uang
dari usahanya itu sebagian Laila kumpulkan untuk biaya semesterannya. Maka dari
itu sejak awal dinyatakan diterima, ia mentargetkan agar bisa lulus dengan
cepat bagaimanapun caranya. Berkat usaha serta keprihatinannya, gadis yang
setiap hari berangkat kuliah dengan sepeda ini mampu menyelesaikan kuliahnya.
Hari itu Laila terlihat cantik
dengan setelan kebaya coklat milik ibunya, terlihat lebih bermakna ketika
kebaya itu dibalut dengan pakaian wisudanya. Tak pernah lepas tangan ibunda
Laila yang mulai keriput selalu memegang erat anak gadisnya itu. Beberapa kali
beliau menyekakan sapu tangan yang ada di gengamannya ke mata sembabnya.
Prosesi demi prosesi wisuda diikuti oleh keluarga pedagang sayur itu. Ketika
matahari mulai di atas kepala acara wisuda itu selesai. Namun ketika Laila dan
keluarganya akan meninggalkan tempat wisuda, tiba- tiba HP butut Laila berdering. Siapa sangka, siapa duga setelah diangkat
ternyata gadis itu mendapat telepon dari salah satu lembaga pemerintahan di
Jakarta, bawasannya Laila diterima bekerja di sana sebagai Information Provider. Sontak pasangan penjual sayur itu bersujud
sebagai ucapan syukur kepada_Nya.
Inilah sepenggal perjalanan hidup
Laila yang penuh dengan liku. Berkat kesabaran, ketabahan, dan keuletannya kini
Laila menjadi wanita dewasa yang sedang bertarung di kerasnya dunia kerja.
Setiap bulan tak lupa ia selalu mengirimkan separuh dari penghasilannya kepada
orang tuanya guna mencukupi kebutuhan dan menyekolahkan adiknya yang pada saat
itu masih SMP. Kini orang tuanya telah mampu membuka warung sayur dirumahnya
berkat bantuan Laila. Tidak sia- sia dulu orang tuanya bersusah payah bekerja,
karena saat ini segala peluhnya terbayar oleh keberhasilan anak sulungnya, …
Laila.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar