Senin, 25 Maret 2013

Cita dan Asa Laila_


Cita dan Asa Laila
Berada dalam lingkungan keluarga yang serba pas- pasan tak lantas menyurutkan semangat seorang Laila untuk tetap meneruskan kuliah. Diceritakan setelah lulus dari menengah atas, Laila mencoba keberuntungannya, beberapa kali ia mengikuti ujian masuk PT. Jika dibayangkan uang pendaftaran PT saat itu lumayan mahal bila dibandingkan dengan kondisi ekonomi keuangan keluarga Laila yang orang tuanya hanya pedagang sayur keliling. Berbekal lembaran uang yang dikumpulkan orang tuanya, Laila akhirnya pergi untuk mencoba keberuntungannya. Alhamdulillah, akhirnya Lailapun diterima disalah satu PTN di Kota Gudeg. Luapan bahagia muncul seketika, tetesan air mata mulai membasahi pipi Laila ketika melihat pengumuman siang itu. Bagaimana tidak, anak sulung penjual sayur itu mampu meneruskan kuliahnya.
Perjalanan kuliah Laila terbilang cepat, tepat 3,5 tahun ia menyelesaikan kuliahnya dengan IPK 3,75. Namun, dibalik itu selama 3,5 tahun itu Laila harus berjuang membantu orang tuanya membiayai kuliahnya, mulai dari ia berjualan kue buatannya di kampus, membagi waktunya untuk mengajar di Madrasah Diniyah, hingga membuka jasa penyampulan buku. Uang dari usahanya itu sebagian Laila kumpulkan untuk biaya semesterannya. Maka dari itu sejak awal dinyatakan diterima, ia mentargetkan agar bisa lulus dengan cepat bagaimanapun caranya. Berkat usaha serta keprihatinannya, gadis yang setiap hari berangkat kuliah dengan sepeda ini mampu menyelesaikan kuliahnya.
Hari itu Laila terlihat cantik dengan setelan kebaya coklat milik ibunya, terlihat lebih bermakna ketika kebaya itu dibalut dengan pakaian wisudanya. Tak pernah lepas tangan ibunda Laila yang mulai keriput selalu memegang erat anak gadisnya itu. Beberapa kali beliau menyekakan sapu tangan yang ada di gengamannya ke mata sembabnya. Prosesi demi prosesi wisuda diikuti oleh keluarga pedagang sayur itu. Ketika matahari mulai di atas kepala acara wisuda itu selesai. Namun ketika Laila dan keluarganya akan meninggalkan tempat wisuda, tiba- tiba HP butut Laila berdering. Siapa sangka, siapa duga setelah diangkat ternyata gadis itu mendapat telepon dari salah satu lembaga pemerintahan di Jakarta, bawasannya Laila diterima bekerja di sana sebagai Information Provider. Sontak pasangan penjual sayur itu bersujud sebagai ucapan syukur kepada_Nya.
Inilah sepenggal perjalanan hidup Laila yang penuh dengan liku. Berkat kesabaran, ketabahan, dan keuletannya kini Laila menjadi wanita dewasa yang sedang bertarung di kerasnya dunia kerja. Setiap bulan tak lupa ia selalu mengirimkan separuh dari penghasilannya kepada orang tuanya guna mencukupi kebutuhan dan menyekolahkan adiknya yang pada saat itu masih SMP. Kini orang tuanya telah mampu membuka warung sayur dirumahnya berkat bantuan Laila. Tidak sia- sia dulu orang tuanya bersusah payah bekerja, karena saat ini segala peluhnya terbayar oleh keberhasilan anak sulungnya, … Laila.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar